Densus 88 Temukan 70 Anak Terpapar Konten Kekerasan, Jabar dan Jakarta Jadi Wilayah Terbanyak

Ciri berikutnya adalah anak cenderung menarik diri dari pergaulan karena komunitas TCC membuat mereka nyaman sehingga anak-anak lebih suka menyendiri untuk berlama-lama.

Andi Ahmad S
Rabu, 07 Januari 2026 | 22:45 WIB
Densus 88 Temukan 70 Anak Terpapar Konten Kekerasan, Jabar dan Jakarta Jadi Wilayah Terbanyak
Juru bicara Densus 88, Kombes Mayndra Eka Wardhana di Mabes Polri, Rabu (7/1/2025). (Suara.com/Faqih Fathurrahman)
Baca 10 detik

Anak terpapar ekstremisme TCC menunjukkan ciri menyukai konten sadis, mengidolakan pelaku kekerasan melalui simbol atau gaya pakaian, hingga berani membawa senjata replika atau pisau sebagai bentuk inspirasi aksi kekerasan nyata.

Anak cenderung menarik diri dari lingkungan sosial karena merasa lebih nyaman di komunitas TCC, serta menunjukkan kemarahan berlebihan jika privasi gawai mereka diusik guna menyembunyikan konten tidak wajar tersebut.

Densus 88 menemukan 70 anak rentang usia 11-18 tahun di 19 provinsi yang terpapar komunitas kekerasan ini, dengan mayoritas telah mendapatkan intervensi berupa asesmen dan konseling untuk pemulihan perilaku.

SuaraJabar.id - Wilayah Jawa Barat dan Jakarta menjadi salah satu titik fokus bagi Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror (AT) Polri, dalam kasus terpapar paham ekstremisme di dalam true crime community (TCC).

Pasalnya, Densus 88 Antiteror Polri kini sudah mendapatkan data ciri-ciri anak yang terpapar paham ekstremisme tingkat tinggi

Ciri pertama adalah ditemukan simbol maupun nama pelaku kekerasan pada barang pribadi milik anak.

"Ini bisa jadi menjadi tokoh idola atau sosok yang ingin diikuti perilakunya," ujar Juru Bicara Densus 88 AT Polri Kombes Pol. Mayndra Eka Wardhana dilansir dari Antara.

Baca Juga:Bukan Soal Keamanan, Ini Alasan Menyentuh Kapolda Jabar Larang Petasan di Malam Pergantian Tahun

Ciri berikutnya adalah anak cenderung menarik diri dari pergaulan karena komunitas TCC membuat mereka nyaman sehingga anak-anak lebih suka menyendiri untuk berlama-lama mengakses komunitas tersebut.

Kemudian, anak suka menirukan tokoh atau idola di dalam komunitas true crime.

"Ini sudah terbukti. Pernah terjadi insiden di SMAN 72 dan ABH (anak berhadapan hukum) yang melakukan tindakan tersebut, dari replika senjatanya, dari unggahannya, dari gaya berpakaiannya, bahkan aksi-aksinya, ini adalah cosplay pelaku-pelaku sebelumnya dari negara asalnya," katanya.

Berikutnya, anak menyukai konten kekerasan dan sadistis.

"Konten-konten yang diakses tidak normal. Jadi, kalau orang normal melihat itu pasti tidak tega melihat kejadian-kejadian kekerasan yang sering diunggah di komunitas tersebut," ucapnya.

Baca Juga:Daftar Lengkap UMK Jabar 2026: Kota Bekasi Paling Sultan, Daerah Kamu Berapa?

Ciri berikutnya adalah anak marah berlebihan jika gawainya dilihat orang lain. Ia mengatakan anak menganggap konten yang diakses merupakan privasi sehingga marah jika gawainya dilihat orang lain.

Ciri terakhir adalah anak membawa senjata api replika dan pisau.

"Kerap kadang dia bawa ke sekolah untuk dibuat inspirasi melakukan kekerasan," ucapnya.

Adapun, Densus 88 AT Polri mengungkapkan terdapat 70 anak yang tergabung dalam grup true crime community yang mengandung konten kekerasan.

Puluhan anak tersebut tersebar di 19 provinsi yang mana provinsi yang terbanyak, yaitu DKI Jakarta ada 15 orang, Jawa Barat 12 orang, dan Jawa Timur 11 orang.

Untuk sebaran usia, anak-anak tersebut berusia rentang dari 11 sampai 18 tahun.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak