- Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyoroti Karawang kerap banjir disebabkan tanggul jebol akibat konstruksi rapuh berbahan bambu.
- Dedi Mulyadi meminta BBWS Citarum segera memperbaiki tanggul penahan air karena infrastruktur tersebut berada di bawah kewenangan mereka.
- Pemprov Jabar mendorong percepatan perbaikan tanggul dengan kualitas lebih baik untuk meminimalkan risiko bencana di tengah curah hujan tinggi.
SuaraJabar.id - Teka teki penyebab banjir di Kabupaten Karawang, Jawa Barat menjadi sorotan penting bagi Gubernur Jabar Dedi Mulyadi.
Menurut KDM sapaan akrabnya, banjir yang kerap merendam Karawang merupakan masalah utama bukan hanya faktor alam, melainkan banyaknya tanggul sungai yang jebol akibat kualitas konstruksi yang rapuh yakni dari bambu.
Dedi Mulyadi meminta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum untuk segera turun tangan membenahi infrastruktur penahan air tersebut, karena berada di bawah kewenangan lembaga di bawah kementerian tersebut.
"Banjir di Karawang, problem utamanya sungai-sungainya tanggulnya jebol. Semoga itu bisa segera ditangani, karena itu wilayah BBWS," kata Dedi Mulyadi, Jumat (27/2/2026).
Baca Juga:Dedi Mulyadi Semprot Aturan Sampah: Izin PLTSa 6 Tahun Baru Kelar, Tapi Rakyat Mau Dipidana
Mantan Bupati Purwakarta ini menyesalkan masih ditemukannya infrastruktur vital penahan banjir yang hanya dibangun menggunakan material sementara dengan daya tahan rendah seperti bambu.
Kondisi inilah yang dinilai membuat Karawang terus menjadi langganan banjir saat debit air meningkat.
"Saya lihat tanggul sementaranya ada yang dibuat dari bambu, pasir dikarungin," ujar Dedi.
Meski melontarkan kritik keras, Dedi mengaku memahami kendala yang mungkin dihadapi oleh instansi terkait di lapangan, terutama mengenai persoalan finansial yang sering kali menghambat kecepatan perbaikan permanen.
"Mungkin pembiayaan yang belum turun," ucapnya.
Baca Juga:Disekap dan Diintimidasi di THM Maumere, 12 Korban TPPO Asal Jabar Akhirnya Pulang
Pemerintah Provinsi Jawa Barat, tambah dia, kini mendorong adanya percepatan perbaikan tanggul dengan kualitas yang lebih mumpuni guna meminimalkan risiko bencana di masa depan, mengingat curah hujan yang masih tinggi di wilayah utara Jawa Barat. [Antara].