Keseimbangan Air di Tengah Industri: Tantangan, Riset, dan Upaya Konservasi

Para ahli hidrogeologi menegaskan bahwa industri AMDK tak bisa seenaknya mengambil air tanah tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.

Rully Fauzi
Kamis, 20 November 2025 | 13:35 WIB
Keseimbangan Air di Tengah Industri: Tantangan, Riset, dan Upaya Konservasi
Diskusi ilmiah "Jejak Air Pegunungan, Mata Air dan Air Tanah: Antara Alam, Industri dan Masyarakat" di Kampus ITB, Bandung. [dok. pribadi]
Baca 10 detik
  • Para ahli hidrogeologi menegaskan bahwa industri AMDK tak bisa seenaknya mengambil air tanah tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.
  • Diskusi ilmiah "Jejak Air Pegunungan, Mata Air dan Air Tanah: Antara Alam, Industri dan Masyarakat" digelar di Kampus ITB.
  • Kegiatan diselenggarakan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB melalui Program Studi Magister Teknik Air Tanah bersama PAAI.

SuaraJabar.id - Para ahli hidrogeologi menegaskan bahwa industri air minum dalam kemasan (AMDK) tidak bisa seenaknya mengambil air tanah tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.

Pelaku usaha tentu akan menjaga keseimbangan antara pemanfaatan air untuk industri dan keberlanjutan sumber air tanah harus melalui pengawasan ketat dan program konservasi.

Ahli hidrogeologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Heru Hendrayana mengatakan, riset untuk menentukan titik pengambilan air tidak hanya mahal, tetapi juga harus berbasis data ilmiah guna menjamin keberlanjutan sumbernya.

Dia melanjutkan, perusahaan AMDK selalu memilih daerah dengan sistem akuifer vulkanik dengan cadangan air besar dan kualitas baik, bukan di wilayah dengan pasokan terbatas.

"Kalau pengelolaan air tanah tidak sesuai dengan kapasitas imbuhannya, dampaknya bisa serius. Sumur warga bisa menurun debitnya, bahkan kering di musim kemarau," kata Heru Hendrayana.

Hal tersebut disampaikan Heru dalam diskusi ilmiah "Jejak Air Pegunungan, Mata Air dan Air Tanah: Antara Alam, Industri dan Masyarakat" di Kampus ITB, Bandung.

Kegiatan diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB melalui Program Studi Magister Teknik Air Tanah bersama Perhimpunan Ahli Airtanah Indonesia (PAAI).

Heru menegaskan, sumber air pegunungan sejati berasal dari sistem akuifer vulkanik atau lapisan batuan berpori hasil aktivitas gunung api muda yang mampu menyimpan air tanah dalam volume besar. Karena itu, sambung dia, penggunaan air dari lapisan ini tidak dapat disamakan dengan pengambilan air tanah dangkal atau sumur bor biasa.

Dosen hidrogeologi ITB, Prof. Lilik Eko Widodo menjelaskan bahwa setiap titik pengambilan air industri AMDK harus dihitung secara ilmiah melalui kajian kuantitatif dan izin resmi pemerintah.

Dia menambahkan, tata kelola air tanah memiliki grand design yang mengatur agar pemanfaatan air industri tidak mengganggu sistem imbuhan dan tidak merusak keseimbangan hidrogeologi di sekitarnya.

"Yang penting bukan sekadar mengambil air, tapi memastikan sistemnya tetap berfungsi," katanya.

Peneliti Pusat Sumber Daya Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ananta Rangga menjelaskan bahwa sistem akuifer di Indonesia memiliki karakteristik berbeda-beda tergantung kondisi geologi daerahnya. Karena itu, dia menekankan pentingnya riset jangka panjang untuk memastikan sistem air tanah tetap lestari.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, peneliti, dan industri adalah kunci dalam menjaga keseimbangan air di daerah imbuhan. Dia mengatakan, hal ini mengingat tidak semua akuifer memiliki kemampuan yang sama untuk pulih, sehingga pemantauan ilmiah perlu terus dilakukan.

"Tapi selama perusahaan mengikuti hasil riset dan izin resmi, sistemnya bisa tetap berkelanjutan," katanya.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan DLH Provinsi Jawa Barat, Resmiani menilai bahwa sebagian besar perusahaan AMDK di Jawa Barat telah menunjukkan kepatuhan tinggi terhadap regulasi dan aktif melakukan program konservasi. Dia mengungkapkan kalau saat ini tidak sedikit perusahaan yang sudah punya sumur resapan, area hijau, dan program pelestarian lingkungan.

"Kami memantau secara rutin dan sejauh ini kolaborasi dengan pihak industri berjalan baik," katanya.

Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGTL) Kementerian ESDM, Agus Cahyono Adi menjelaskan bahwa pemerintah telah mewajibkan setiap badan usaha dengan sumur dalam untuk melaksanakan konservasi daerah imbuhan.

Dia melanjutkan, program ini meliputi pembangunan sumur resapan dan penanaman pohon untuk menjaga kemampuan tanah dalam menyerap air hujan.

"Kami mewajibkan setiap perusahaan untuk ikut menjaga daerah imbuhan agar keseimbangan air tetap terjaga. Jadi ada mekanisme yang memastikan air yang diambil bisa dikembalikan melalui konservasi," tukas Agus.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jajal Seberapa Jawamu Lewat Tebak Kosakata Jatuh
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tebak Jokes Bapak-bapak, Cek Seberapa Lucu Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 9 SMP Materi Statistika dan Peluang
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Bahasa Indonesia Kelas 9 SMP dengan Kunci Jawaban dan Penjelasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Fiksi dan Eksposisi dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak