- Video hoaks Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menawarkan tebus murah motor dipastikan rekayasa teknologi kecerdasan buatan (AI).
- Diskominfo Jawa Barat menerima banyak laporan hoaks; intensitas penyebaran konten menyesatkan di media sosial semakin meningkat.
- Masyarakat diimbau waspada dan memverifikasi informasi menggiurkan dengan sumber kredibel sebelum memercayai atau menyebarkannya.
SuaraJabar.id - Sebuah video yang menampilkan sosok Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menawarkan program tebus murah sepeda motor mendadak ramai beredar di media sosial.
Sekilas, video itu tampak meyakinkan. Namun di balik tampilannya yang meyakinkan, tersimpan sebuah penipuan digital.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat memastikan video tersebut adalah hoaks.
Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jawa Barat menegaskan, video itu merupakan hasil manipulasi teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang mencatut nama dan wajah Dedi Mulyadi.
Baca Juga:Stok BBM dan LPG Aman! Pemkot Banjar Siapkan 'Jalur Energi' Lancar untuk Mudik Lebaran 2026
Kepala Diskominfo Jawa Barat Mas Adi Komar mengatakan, konten tersebut sengaja dibuat untuk menyesatkan masyarakat dengan memanfaatkan kemajuan teknologi.
Menurutnya, hingga saat ini Gubernur Dedi Mulyadi tidak pernah mengeluarkan program tebus murah sepeda motor ataupun program hadiah serupa seperti yang ditampilkan dalam video tersebut.
“Itu konten hoaks. Kami sudah melakukan analisis dan mencocokkan dengan konten asli yang pernah diunggah Pak Gubernur. Hasilnya, video yang beredar itu murni rekayasa AI,” ujar Adi, Kamis (12/3/2026).
Fenomena penyebaran informasi palsu di Jawa Barat, kata Adi, bukan hal baru. Bahkan, dalam beberapa waktu terakhir, intensitasnya semakin meningkat.
Diskominfo Jawa Barat hampir setiap dua hari sekali menerima laporan warga terkait dugaan konten hoaks yang beredar di media sosial.
Baca Juga:Bocah 5 Tahun Hilang di Ciamis, Diduga Terseret Arus Saluran Air Mengejar Balon
Selain laporan masyarakat, tim Diskominfo juga aktif melakukan patroli siber untuk mendeteksi informasi menyesatkan yang berpotensi merugikan publik.
Data yang dihimpun sepanjang Januari hingga 10 Maret 2026 menunjukkan tingginya angka penyebaran hoaks. Sebanyak 12 laporan berasal dari masyarakat, sementara 183 kasus lainnya ditemukan melalui pemantauan aktif Diskominfo.
Dari total laporan tersebut, 194 konten dipastikan sebagai hoaks, dan hanya satu konten yang dinyatakan bukan hoaks setelah melalui proses klarifikasi.
“Dalam satu pekan saja banyak hoaks yang muncul. Hampir setiap dua hari kami mendeteksi konten seperti ini, baik dari laporan warga maupun dari patroli siber. Termasuk video yang mencatut Pak Gubernur kemarin, itu sudah dipastikan hoaks,” jelasnya.
Adi menilai perkembangan teknologi Artificial Intelligence memang membawa dua sisi yang bertolak belakang. Di satu sisi, AI dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat untuk kreativitas dan inovasi. Namun di sisi lain, teknologi ini juga dapat disalahgunakan untuk menipu masyarakat.
“AI ini seperti dua mata pisau. Bisa sangat positif untuk kreativitas, tetapi juga bisa menjadi disrupsi yang merugikan jika digunakan untuk menipu,” katanya.