- Kementerian Ekonomi Kreatif menggelar program Aktivasi Desa Kreatif di Bojonggede, Kabupaten Bogor, pada Selasa, 3 November 2026.
- Acara tersebut menghadirkan Gimersia Playday yang menampilkan board game lokal bagi anak-anak serta fasilitasi pendaftaran merek untuk pelaku usaha.
- Menteri Teuku Riefky Harsya menyatakan program itu bertujuan menjadikan potensi desa sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.
SuaraJabar.id - Suasana di Aula Masjid Baiturrahman, Bojonggede, mendadak riuh. Di atas meja bertaplak putih, kartu-kartu bergambar sambal khas Indonesia berserakan. Anak-anak berseragam merah putih berebut menepuk kartu yang mereka incar. Di antara mereka, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya ikut larut dalam permainan.
Mereka sedang memainkan Sambelina, sebuah board game karya pengembang lokal Segara.id. Aturannya sederhana: pemain harus mengumpulkan kartu sebanyak mungkin dengan gambar aneka sambal Nusantara. Namun, kesederhanaan itu justru membuat permainan semakin seru. Menteri Riefky pun ikut berebut kartu bersama anak-anak SDN Bambu Kuning Bojonggede.
Di meja permainan itu, gim tidak hanya menjadi urusan menang dan kalah. Anak-anak belajar berinteraksi, berkomunikasi, dan menyusun strategi bersama teman-temannya. Pengalaman bermain secara langsung seperti inilah yang ingin diperkenalkan melalui Gimersia Playday, salah satu rangkaian Aktivasi Desa Kreatif yang digelar Kementerian Ekonomi Kreatif di Bojonggede, Kabupaten Bogor, Selasa (3/11/2026).
Bagi Agustina Herbianti, guru SDN Bambu Kuning, permainan board game memberi alternatif bagi anak-anak yang selama ini akrab dengan gawai.
“Sebetulnya lebih bagus karena game secara langsung, daripada anak pegang handphone terus. Jadi motorik mereka juga lebih berjalan,” ujarnya.
Baca Juga:Dihadiri Para Menteri dan Ketua MPR, EIGER Nature Resmi Diluncurkan di Kabupaten Bogor
Agustina berharap permainan semacam ini bisa membantu anak-anak membangun hubungan sosial yang lebih baik. Mereka berkumpul, berbicara, belajar bekerja sama, dan mengenali perasaan orang lain.
“Daripada mereka main game online, lebih bagus main seperti ini. Jadi mereka lebih berkumpul sama teman, lebih komunikasi, jiwa sosialnya bisa lebih tinggi, lebih punya empati sama orang lain,” katanya.
Gimersia Playday menghadirkan pengalaman bermain board game secara langsung bagi 150 peserta, dengan pendampingan 10 game master dari komunitas yang telah terlatih. Selain Sambelina, pengunjung juga dapat mencoba berbagai permainan lokal, seperti Kata Emak, Sekata, Waroong Wars, hingga Jinx-o karya Tabletoys.
Di balik meja-meja permainan itu, ada industri kreatif yang sedang berusaha memperluas ruang tumbuhnya. Segara.id, salah satu pengembang yang terlibat, telah menjual lebih dari 11.000 unit permainan Kata Emak. Capaian tersebut menunjukkan bahwa permainan buatan Indonesia memiliki pasar di dalam negeri.
Nailys Syifa, Co-Founder Segara.id, bercita-cita membawa produk mereka ke pasar internasional. Namun, untuk saat ini, mereka masih ingin memperkuat pasar domestik sekaligus mempelajari karakter konsumen di luar negeri.
“Untuk mengikuti ke arah sana tentunya pasti ingin. Tapi untuk sekarang ini kami masih fokus di pasar lokal. Target kami mungkin tahun depan,” ungkapnya.
Baca Juga:Pendiri CAN Borneo Luruskan Isi Pertemuan Relawan dengan Menteri Kehutanan
Menurut Syifa, pasar board game di Indonesia dan luar negeri memiliki karakter yang berbeda. Pemain di Indonesia cenderung menyukai permainan yang sederhana, mudah dipahami, dan tidak membutuhkan waktu terlalu lama. Sementara itu, pasar internasional memiliki pilihan genre yang lebih beragam. Memahami perbedaan tersebut menjadi salah satu pekerjaan rumah sebelum Segara.id melangkah lebih jauh.
Jika di aula masjid anak-anak sedang belajar mengenal permainan lokal, di sudut lain Bojonggede ada Wuri yang sedang merawat mimpi melalui sesuatu yang jauh lebih akrab di rumah: kue.
Usaha Oktacilla Cake and Bakery yang dirintis perempuan berusia 41 tahun ini bermula dari sebuah black forest yang dibuatnya untuk teman-teman semasa SMA. Tidak ada sekolah atau pendidikan khusus yang mengajarinya membuat kue. Semuanya berawal dari rasa ingin mencoba, lalu berkembang melalui pengalaman dan latihan sendiri.
Ingatan tentang kue itu terbawa hingga Wuri berumah tangga dan memiliki anak. Karena anaknya menyukai makanan manis, ia kembali membuat kue di rumah. Rupanya, bukan hanya anaknya yang menyukai hasil buatannya. Orang-orang di sekitarnya juga mulai memesan. Dari dapur kecil itulah Oktacilla Cake and Bakery perlahan tumbuh.
Perjalanan hampir satu dekade itu tentu tidak selalu manis. Pandemi COVID-19 menjadi salah satu masa sulit bagi usahanya. Penghasilan dari pesanan tidak menentu, tetapi Wuri berusaha tidak berhenti belajar. Sebagian keuntungan yang diperoleh dari pesanan justru ia sisihkan untuk mengikuti kursus dan menambah keterampilan.
“Saat ada corona, keuntungan dari orderan yang masuk saya kumpulkan untuk ikut kursus, untuk nambah ilmu,” tuturnya.
Uang hasil berjualan juga ia gunakan untuk membeli peralatan. Ia masih mengingat masa ketika harus meminjam perlengkapan milik orang lain untuk membuat kue. Kini, satu per satu peralatan yang dulu hanya bisa ia pinjam mulai dapat dimiliki sendiri.