Budi Arista Romadhoni
Sabtu, 13 Juni 2026 | 17:09 WIB
Ilustrasi petugas spbu mengisikan bbm nonsubsidi pertamax. [Antara]
Baca 10 detik
  • Harga Pertamax resmi naik menjadi Rp16.250 per liter, menciptakan selisih harga terbesar sepanjang sejarah dengan Pertalite.
  • Pakar energi memprediksi sekitar 10 persen pengguna Pertamax akan beralih ke Pertalite demi menekan beban pengeluaran bulanan.
  • Kelompok kelas menengah menjadi pihak paling terdampak akibat kenaikan biaya transportasi operasional kendaraan pribadi mereka setiap bulan.

SuaraJabar.id - Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter diperkirakan tidak hanya menekan pengeluaran rumah tangga, tetapi juga memicu gelombang perpindahan konsumen ke Pertalite. Kelompok kelas menengah disebut menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya karena harus menanggung tambahan biaya transportasi ratusan ribu rupiah setiap bulan.

Pakar energi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, memperkirakan sekitar 10 persen pengguna Pertamax akan beralih ke Pertalite setelah harga BBM nonsubsidi itu melonjak hampir Rp4.000 per liter.

"Belajar dari pengalaman April 2022, ketika Pertamax naik 39 persen dan sekitar satu dari delapan pembeli pindah ke Pertalite, kami perkirakan penjualan Pertamax turun sekitar 10 persen," ujar Yayan.

Menurutnya, kenaikan harga tidak membuat masyarakat mengurangi mobilitas. Sebaliknya, banyak pengguna kendaraan memilih menekan pengeluaran dengan beralih ke BBM yang lebih murah.

Dengan harga Pertamax kini Rp16.250 per liter dan Pertalite tetap Rp10.000 per liter, selisih harga mencapai Rp6.250 per liter atau yang terbesar sepanjang sejarah.

Kondisi ini membuat pengguna kendaraan pribadi mulai menghitung ulang pengeluaran bulanannya. Pemilik mobil yang menghabiskan 100 liter Pertamax per bulan harus menambah biaya sekitar Rp395 ribu setiap bulan. Sementara pengguna sepeda motor dengan konsumsi 30 liter per bulan perlu mengeluarkan tambahan sekitar Rp119 ribu.

Yayan menilai kelompok rumah tangga kelas menengah atau Desil 5 hingga Desil 7 menjadi kelompok yang paling rentan terdorong beralih ke Pertalite. Di sisi lain, kelompok rumah tangga berpendapatan tinggi tetap harus menanggung kenaikan biaya operasional karena banyak kendaraan perusahaan dan armada usaha tidak diperbolehkan menggunakan BBM bersubsidi.

"Kenaikan Pertamax bekerja seperti pajak yang lebih banyak menyasar orang mampu," ujarnya.

Meski diperkirakan terjadi perpindahan konsumen, Pertamina Patra Niaga memastikan pasokan Pertalite masih aman dan distribusi berjalan normal sesuai penugasan pemerintah.

Baca Juga: Viral Pertalite Jadi Makin Boros, Netizen: Dioplos Biar Untung Gede Buat Bangun IKN

Load More