Rombongan Wisatawan Jadi Korban Penganiayaan di Puncak, Begini Kronologinya

Chandra Iswinarno
Rombongan Wisatawan Jadi Korban Penganiayaan di Puncak, Begini Kronologinya
Korban penganiayaan saat dirawat di pelayanan kesehatan terdekat. [Dokumentasi]

Penganiayaan itu baru berakhir setelah beberapa warga melerai.

Suara.com - Rombongan wisatawan asal Jakarta menjadi korban penganiayaan sekelompok orang di jalan alternatif Puncak tepatnya di Kampung Baru, Desa Cibereum, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Menurut seorang korban, Raden Nurhadi (30), peristiwa bermula saat ia bersama keluarga sedang beriringan mobil dalam perjalanan berlibur di kawasan Puncak pada Sabtu (8/6/2019) kemarin.

Setibanya di lokasi, mobilnya mendadak disalip mobil lainnya dari belakang sambil membunyikan klakson beberapa kali. Karena merasa kendaraan tesebut ugal-ugalan, mobil rombongan Raden membalas membunyikan klakson.

"Setelah itu, di depan mobil mereka berhenti dan menghadang mobil kami. Ada sekitar 10 orang pada datang nyamperin sambil maksa buka pintu mobil," kata Raden, saat dihubungi Suara.com, Senin (10/6/2019).

Kemudian, mereka pun terlibat cekcok hingga berujung kepada penganiayaan terhadap keluarga Raden. Akibatnya, lima anggota keluarga Raden termasuk kedua orangtuanya mengalami luka-luka karena pukulan.

"Mereka mukulinnya pakai tangan kosong. Ibu sama bapak saya juga yang lagi stroke juga disuruh turun sambil dipukulin tongkatnya ditarik sampai jatuh. Pokoknya brutal deh, warga yang lihat ada juga yang ikut mukul," ungkap Raden.

Penganiayaan itu baru berakhir setelah beberapa warga melerai. Setelah kejadian tersebut Raden yang juga merupakan wartawan televisi CNBC dan keluarganya berharap ada pertanggungjawaban dari para pelaku.

"Alhamdulillah, sudah mulai membaik. Rencananya besok dari para pelaku, kepala desa setempat (Cibereum) sama tokohnya mau ke rumah minta maaf. Kalau kami siap tapi kalau terjadi sesuatu kepada keluaga saya ke depan mereka tanggung jawab," ungkapnya.

Terpisah, Kanit Reskrim Polsek Cisarua Iptu Irwan membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia mengatakan penganiayaan tersebut berawal dari kesalahpahaman antara kedua belah pihak di jalanan.

"Mereka salah paham. Pihak korban merasa para pelaku ugal-ugalan. Kalau pihak pelaku mereka warga situ yang sedang bawa tokoh agama setempat dan orang sakit, kemudian merasa sempat dengar dikatain hewan (anjing)," ujar Irwan.

Pihaknya mengaku sudah memfasilitasi keduanya untuk dapat menyelesaikan permasalahan tersebut secara kekeluargaan. Namun demikian, jika korban akan menempuh jalur hukum polisi siap memprosesnya.

"Rencananya besok dari pihak pelaku dengan kepala desa dan tokoh-tokohnya mau datang ke rumah korban di Jakarta minta maaf. Ya kalau kita hanya menengahi, tapi kalau mau proses kita siap menerima," tutur Irwan.

Kontributor : Rambiga

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS