Mengintip Sejarah Orang Tionghoa di Cimahi, dari Chinese Wijk hingga hingga Diburu Laskar

Komunitas Tionghoa diperkirakan sudah ada di Kota Cimahi sebelum Belanda membangun Garnizun di kota itu pada awal abad 19.

Ari Syahril Ramadhan
Selasa, 01 Februari 2022 | 11:17 WIB
Mengintip Sejarah Orang Tionghoa di Cimahi, dari Chinese Wijk hingga hingga Diburu Laskar
Jalan Pacianan di Kota Cimahi. Jalan ini pernah menjadi pusat perniagaan pada masa Kolonial Belanda. [Suara.com/Ferrye Bangkit Rizki]

Menurutnya, bisa saja komunitas China di Cimahi menghinduk ke Bandung, lantaran di Cimahi memang sejak dulu tidak ada Kelenteng atau Vihara. Sehingga orang China di Cimahi yang ingin ke Vihara harus ke Kota Bandung.

Kawasan Terminal Pasar Atas Baru di Kota Cimahi yang Bakal Digunakan untuk Tempat Wisata Kuliner. [Suara.com/ Ferry Bangkit Rizki]
ILUSTRASI- Kawasan Terminal Pasar Atas Baru di Kota Cimahi yang Bakal Digunakan untuk Tempat Wisata Kuliner. Kawasan Pasar Atas dulunya bernama Pasar Luhur ada Kampung China atau Chinesse Wijk. [Suara.com/ Ferry Bangkit Rizki]

Namun jejak sejarah mencatat, dulunya di Cimahi ada tempat yang dijadikan sarana ibadah untuk umat Tionghoa. Namanya Chung Hwa hung Hwi yang bangunannya kini menjadi Sekolah Andreas di Jalan Pacinan atau Jalan Babakan.

Kemudian, masih ada jejak peninggalan rakyat Tionghoa lainnya di Cimahi hingga kini. Seperti di Jalan Djulaeha Karmita atau Jalan Pasar Atas. Di sana terdapat bangunan-bangunan bercirikan arsitektur China yang dipadukan dengan barat.

"Di samping Sekolah Andreas, ada satu rumah orang China yang masih orisinil, mempertahankan gaya arstitektur tahun 1900-an dengan pola rumah seperti orang Belanda," terang Machmud.

Baca Juga:Rayakan Imlek, Vihara Amurwa Bhumi Graha Bandar Lampung Bagi 3 Ribu Angpau

Bahkan, kata dia, pemilik televisi pertama di Cimahi ternyata adalah seorang warga Tionghoa bernama Kim Kim. Televisi itu disimpan Kim Kim di toko miliknya di Jalan Gatot Subroto atau Gatsu, yang sering didatangi warga Kalidam dan Gatsu hanya sekedar untuk menonton. Bahkan Toko Kim Kim atau Toko Soerabaria disebut merupakan toko swalayan pertama di Cimahi.

"Bahkan pemilik televisi pertama di Cimahi, sehingga warga Kalidam dan Gatsu sering nonton TV di toko Kim Kim," kata Machmud.

Jadi Bulan-bulanan Setelah Kemerdekaan RI Tahun 1945

Pada zaman kemerdekaan, tepatnya ketika memasuki masa bersiap tahun 1945-1946, peranakan Tionghoa dan yang lainnya ainnya menjadi sasaran kemarahan kelompok atau laskar pemuda.

Ketika itu kelompok pribumi tiba-tiba menjadi buas. Orang-orang Belanda dan Tionghoa yang kalau itu masih tinggal di Cimahi jadi sasaran serangan kelompok warga.

Baca Juga:Rayakan Imlek, Pengurus Yayasan Kelenteng Dewi Mulia Bagikan Sembako dan Vaksinasi untuk Warga Sekitar

Kemudian menurut cerita warga zaman dulu, terang Machmud, di sudut Jalan Kaum juga dulunya dijadikan tempat pembantaian warga asing oleh para pemuda. Di mana ketika itu ditengah euforia kemerdekaan, warga asing yang ada di Cimahi dibawa ke tempat tersebut untuk dibantai.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak