facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Miris Hidup Pahlawan Tanpa Tanda Jasa di Tapal Batas KBB-Cianjur, Puluhan Tahun jadi Honorer

Galih Prasetyo Minggu, 19 Juni 2022 | 16:20 WIB

Miris Hidup Pahlawan Tanpa Tanda Jasa di Tapal Batas KBB-Cianjur, Puluhan Tahun jadi Honorer
Ilustrasi guru honorer

Pria berusia 75 tahun merupakan seorang guru honorer di pelosok Kabupaten Bandung Barat (KBB)

SuaraJabar.id - Mentari pagi menghangatkan kulit Hadjarudin Supiana yang kian mengeriput dimakan waktu. Menenteng sebuah tas sederhana berisi buku, ia mulai bersiap menuju tempatnya mengabdi selama puluhan tahun.

Pria berusia 75 tahun merupakan seorang tenaga pendidik non Pegawai Negeri Sipil (PNS) alias guru honorer di pelosok Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Cianjur. Ia sudah mengabdi sekitar 52 tahun.

Pagi itu, pria sepuh bernama Hadjarudin berangkat ke sekolah dengan melewati tapal batas antara Cianjur dengan Bandung Barat. Langkahnya memang tidak setegak semasa muda, namun semangatnya untuk menempuh perjalanan 5 kilometer menuju sekolah tetap terjaga hingga kini.

Ia sejatinya adalah warga Desa Sukasirna, Kecamatan Campakamulya, Kabupaten Cianjur. Tempat tinggalnya merupakan pelosok di wilayah Kabupaten Cianjur, yang jaraknya sekitar 75 kilometer dari perkotaan.

Baca Juga: Fakta Guru Honorer di Toraja: Punya Gelar S2 Mengajar di Pelosok, Gaji Rp500 Ribu Per Bulan

Sementara tempatnya mengajar kini berada di SDN Babakan Sirna yang berada di Kampung Leuwipanto, RT 01/06, Desa Cilangari, Kecamatan Gununghalu, KBB. Jaraknya sekitar 58 kilometer apabila ditempuh dari Ibu Kota Bandung Barat, Ngamprah.

"Bapak itu jadi guru dari tahun 1970-an. Waktu itu masih di Cianjur," ucap Hadjarudin kepada Suara.com belum lama ini.

Tentunya butuh perjuangan hebat ditengah berbagai berbagai keterbatasan. Namun bagi sosok pria kelahiran 8 Oktober 1947 itu itu bukan hambatan. Semangatnya tetap membara meskipun upah yang diterimanya jauh dari layak.

Hadjarudin mulai mengajar sekitar tahun 1970-an di salah satu sekolah di Kabupaten Cianjur, usai menyelesaikan pendidikan akhirnya di Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Ketika itu ia menerima upah Rp 10 ribu setiap bulannya.

"Bapak pernah nerima Rp 10 ribu, kadang Rp 15 ribu. Tapi tidak apa-apa, dijalani aja," tutur Hadjarudin.

Baca Juga: Ganjar Pranowo Angkat Ribuan Guru Honorer di Jateng Jadi PPPK

Singkat cerita, tahun 1973, Hadjarudin pindah mengajar di salah satu sekolah di Bandung Barat yang kala itu masih menjadi bagian dari wilayah administrasi Kabupaten Bandung. Ia menjadi guru pelajaran umum atau guru kelas.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait