Belakangan produk bernama Gula Aren Semut Kawoong hasil petani Sindangkerta ini mulai dilirik pasar mancanegara berkat terlihat sejumlah acara pemeran UMKM dan pemasaran melalui media sosial.
Tak tanggung-tanggung buyer dari negara Cina, Korea, dan Thailand meminta petani Sindangkerta ekpor dalam jumlah besar. Bahkan, sejumlah negara itu sudah meminta diekspor minimal 10 hingga 30 ton per bulan.
Namun permintaan itu sejauh ini belum disanggupi Herman dan teman-temannya karena kapasitas produksinya saat ini belum mencukupi.
"Kita masih pikir-pikir dulu karena produksi sebesar itu cukup sulit. Perlu minimal 300 petani aren untuk terlibat. Tapi kita sedang pikirkan supaya memenuhi permintaan," jelas Herman.
Herman menerangkan lahan aren yang dipakai warga Kampung Talun tersebar di pegunungan Gunung Buled, Pasir Ipis, Haur Seah, dan Sayang Kaak.
Total luas lahannya mencapai 60 hektar meliputi tanah milik pribadi dan Perhutani. Karena sadar pembudidayan tanaman aren di wilayah Sindangkerta masih mengandalkan ekosistem alam, maka warga sekitar sadar untuk tetap merawat hutan untuk menopang penghidupan.
"Kami hidup dan memutarkan roda ekonomi dari aren yang tumbuh di hutan. Kalau kita rusak hutannya tentu aren gak akan tumbuh. Makanya kami rawat ekosistem ini supaya menjaga penghidupan," ujarnya.
Cara Memproduksi Gula Aren Semut
Dia menerangkan, proses pembuatan gula aren semut bermula dari dari air nira atau aren yang dipanaskan di atas wajan. Setelah itu dilakukan proses pemisahan gumpalan sari aren dingin.
Bubuk kristal merah yang dinyakini lebih sehat dari gula pasir putih ini mesti melewati serangkaian tahapan pembuatan agak panjang. Salah satunya tahap penyortiran dan pengeringan yang menyita waktu hampir setengah hari.
Baca Juga:3 Manfaat Gula Aren yang Baik untuk Kesehatan, Melancarkan Pencernaan
"Jadi setelah diayak, butiran gula ini dimasukan ke mesin pengering, lalu nanti dikemas dengan takaran sesuai permintaan pasar. Paling kecil 200 gram hingga bungkus besar dengan berat 1.000 gram," katanya.