-
Warga Cianjur menagih janji kampanye Bupati Wahyu Ferdian untuk menolak proyek geothermal yang dinilai mengancam ekosistem Gunung Gede Pangrango.
-
Ketidakhadiran Bupati saat warga menagih janji menolak geothermal memicu kekecewaan mendalam dan anggapan bahwa Cianjur telah kehilangan sosok pemimpin.
-
Penolakan proyek geothermal didorong trauma gempa 2022. Warga khawatir proyek tersebut merusak lingkungan dan memperburuk kerentanan tanah di zona rawan bencana.
Keberadaan proyek geothermal di kawasan konservasi Gunung Gede-Pangrango dinilai sangat berisiko memperburuk kerentanan tanah. Warga khawatir pengeboran panas bumi akan memicu bencana lingkungan baru yang menghancurkan tempat tinggal mereka yang baru saja mulai bangkit.
4. Krisis Kepercayaan: "Cianjur Tak Punya Pemimpin"
Absennya Bupati dalam momen krusial ini memunculkan sentimen negatif yang berbahaya bagi legitimasi pemerintah daerah. Warga merasa ditinggalkan sendirian menghadapi ancaman korporasi besar.
"Kami datang untuk menagih janji, namun bupati tidak hadir, sehingga kami menilai Cianjur sudah tidak punya pemimpin, kami akan terus melakukan aksi sampai tuntutan kami dikabulkan," tambah Deden. Pernyataan ini menjadi sinyal bahaya bahwa kepercayaan publik sedang berada di titik nadir.
Baca Juga:Ratusan Warga Serbu Kantor Bupati Cianjur Tolak Proyek Geothermal Gunung Gede - Pangrango
5. Jejak Digital yang Tak Bisa Dihapus
Di era internet, tidak ada tempat untuk bersembunyi dari masa lalu. Netizen yang jeli kembali memviralkan video kampanye Mohammad Wahyu Ferdian di berbagai platform media sosial.
Dalam video tersebut, ia dengan jelas menjanjikan penolakan terhadap geothermal dan menawarkan solusi alternatif berupa pengembangan pariwisata. Ia bahkan bermimpi menyulap kawasan Pacet dan Cipanas menjadi destinasi wisata kelas dunia layaknya Gunung Bromo. Kini, video itu menjadi "senjata" utama warga untuk menuntut integritas sang pemimpin.