- Menteri Perhubungan dan Gubernur Jawa Barat perkuat pengawasan titik rawan mudik Lebaran 2026.
- Jawa Barat merupakan lintasan dan daerah asal pergerakan mudik terbesar nasional tahun 2026.
- Fokus pengawasan meliputi jalur tol, pasar tumpah, wisata, serta mitigasi bencana alam.
SuaraJabar.id - Momen mudik Lebaran selalu menjadi agenda nasional yang menantang, dan Jawa Barat memegang peran sangat strategis.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menemui Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) untuk memperkuat pengawasan pada titik rawan arus mudik Lebaran 2026.
Menhub menegaskan pentingnya memperkuat pengawasan pada sejumlah titik rawan yang berpotensi menimbulkan kepadatan maupun gangguan keselamatan perjalanan masyarakat selama masa mudik dan balik Lebaran 2026, khususnya di wilayah Jawa Barat.
"Berdasarkan hasil survei nasional Jawa Barat merupakan salah satu daerah asal pergerakan terbesar secara nasional, sekaligus menjadi wilayah lintasan menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur,” kata Menhub dilansir dari Antara.
Baca Juga:Purwakarta Punya Gaya, 5 Rekomendasi Destinasi Wisata Alam Wajib, Cocok Buat Healing
Menhub menjelaskan, berdasarkan hasil Survei Angkutan Lebaran 2026, prakiraan pergerakan masyarakat selama periode Lebaran 2026 mencapai 143,91 juta orang atau sekitar 50,60 persen dari total penduduk Indonesia.
Meskipun terjadi penurunan dibandingkan survei tahun sebelumnya, Menhub mengingatkan bahwa angka realisasi pergerakan berpotensi lebih tinggi. Realisasi berbasis Mobile Positioning Data (MPD) pada Lebaran 2025 mencapai 154,62 juta orang, artinya potensi pergerakan realisasi 2026 berpeluang lebih tinggi dari angka survei.
"Ini menjadi dasar kita untuk tetap menyiapkan kapasitas maksimal, khususnya di wilayah mobilitas tinggi seperti Jawa Barat,” tutur Dudy.
Menhub juga menyampaikan dominasi penggunaan mobil pribadi dalam perjalanan mudik Lebaran menjadi perhatian utama, mengingat sekitar 53 persen masyarakat memilih mobil pribadi sebagai moda transportasi.
Selain itu, mayoritas pengguna mobil pribadi memilih jalur tol, terutama koridor Jakarta-Cikampek, yang selama ini menjadi titik kritis kepadatan setiap Lebaran.
Baca Juga:Korupsi Lahan di Subang, Lima Pejabat Desa Cibogo Jadi Tersangka
"Karena Jawa Barat merupakan salah satu jalur utama, dukungan Pemerintah Provinsi sangat krusial, khususnya sinkronisasi pengaturan di jalur arteri dan pengendalian titik-titik rawan kepadatan,” bebernya.
Dalam koordinasi tersebut, Menhub meminta dukungan penuh Pemprov Jawa Barat untuk memperkuat pengawasan di sejumlah titik rawan, seperti pasar tumpah yang berada di jalur arteri mudik, kawasan wisata yang diprediksi padat pasca hari pertama Lebaran.
"Perlintasan sebidang yang menjadi salah satu titik rawan kecelakaan, serta penguatan rekayasa lalu lintas di jalur arteri dan tol,” tegas Menhub.
Selain itu, Menhub menekankan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi potensi cuaca ekstrem dan titik rawan bencana di wilayah Jawa Barat, termasuk daerah rawan banjir, longsor, dan rob, yang dapat berdampak pada kelancaran transportasi.
Dalam rangka mendukung kesiapan angkutan Lebaran 2026, Menhub memastikan Kementerian Perhubungan telah menyiapkan sarana dan prasarana transportasi lintas moda, meliputi angkutan darat, laut, penyeberangan, udara, dan perkeretaapian.
Kemenhub juga melakukan berbagai upaya peningkatan keselamatan, termasuk kegiatan ramp check di seluruh moda transportasi.
Ia pun menyoroti pentingnya penguatan manajemen operasional di simpul-simpul transportasi padat di Jawa Barat, seperti terminal dan stasiun, guna memastikan keamanan dan kenyamanan masyarakat selama perjalanan mudik.
Menhub optimistis angkutan Lebaran 2026 dapat berjalan lebih aman dan lancar dengan dukungan penuh pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan.
"Dengan sinergi seluruh jajaran, Pemerintah Jawa Barat dapat menjadi contoh dalam pengelolaan arus mudik dan arus balik yang aman dan tertib,” kata Menhub.