Pemprov Jawa Barat menghadapi beban fiskal berat di 2026 akibat tunggakan proyek 2025 sebesar Rp621 miliar dan pemangkasan dana transfer pusat yang totalnya mencapai Rp3 triliun.
Meski ruang fiskal terhimpit utang dan beban rutin, Gubernur Dedi Mulyadi tetap meningkatkan anggaran infrastruktur jalan menjadi Rp4,5 triliun demi memastikan pembangunan prioritas tetap berjalan maksimal.
Gubernur melakukan penghematan ekstrem dengan menghapus perjalanan dinas, memangkas biaya seremonial hingga menyisakan dua acara saja, serta mengurangi anggaran makan minum tamu demi menambal defisit APBD.
SuaraJabar.id - Pemprov Jawa Barat memiliki warisan hutang di era Gubernur Ridwan Kamil sebanyak Rp621 Miliar dalam pelaksanaan proyek pembangunan yang disusun 2024 dan pelaksanaan 2025 membuat di era Gubernur Dedi Mulyadi terasa berat.
Bayangkan saja, Pemprov Jabar harus mengawali Tahun Anggaran 2026 dengan beban fiskal yang berat akibat kewajiban melunasi tunggakan pembayaran sejumlah proyek pembangunan tahun 2025.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam video media sosialnya mengungkapkan bahwa "warisan" tagihan kegiatan tahun sebelumnya ini menjadi salah satu pukulan telak bagi ruang fiskal daerah, di samping adanya pemangkasan dana transfer dari pusat.
Akibat kewajiban luncuran pembayaran ini, dana segar yang seharusnya bisa digunakan untuk program baru di 2026, tergerus signifikan sejak awal tahun.
"Tahun 2025 hampir ada Rp600 miliar kegiatan pembangunan yang baru bisa dibayarkan di bulan Januari tahun 2026, sehingga hampir Rp3 triliun itu dana 2026 mengalami hilang," ujar Dedi Mulyadi, dilansir dari Antara.
Hilangnya potensi dana Rp3 triliun tersebut merupakan akumulasi dari pembayaran proyek tunda bayar senilai Rp621 miliar dan pengurangan dana bagi hasil pajak dari pemerintah pusat yang mencapai Rp2,458 triliun.
Dedi merinci, selain harus menutup pembayaran proyek fisik yang tertunda, arus kas Pemprov Jabar juga terbebani oleh kewajiban rutin warisan masa lalu. Di antaranya adalah cicilan dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) senilai hampir Rp600 miliar per tahun, serta tunggakan iuran BPJS Kesehatan yang masih menyisakan angka sekitar Rp300 miliar.
Beban operasional aset strategis juga turut menekan APBD, dengan alokasi pembiayaan Masjid Al Jabbar sebesar Rp50 miliar per tahun dan subsidi operasional Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati sekitar Rp100 miliar per tahun.
Kendati terhimpit oleh kewajiban membayar tunggakan proyek dan utang, Dedi memastikan anggaran infrastruktur prioritas tidak dikorbankan, melainkan justru ditingkatkan.
Baca Juga: Gubernur Dedi Mulyadi Larang Total Penanaman Sawit di Jawa Barat Mulai 2026
"Beban ini cukup berat, tetapi anggaran pembangunan mengalami peningkatan tajam. Contoh kecil saja, alokasi jalan yang dulu Rp3,5 triliun sekarang menyentuh angka Rp4,5 triliun. Bukannya turun tapi naik, ditambah belanja lainnya juga mengalami peningkatan," katanya.
Untuk menambal "lubang" anggaran akibat pembayaran proyek 2025 tersebut, Dedi mengambil langkah drastis dengan memangkas belanja non prioritas, fasilitas pejabat dan biaya seremonial.
Salah satu langkah yang diambil adalah pengurangan penggunaan listrik di gedung-gedung pemerintahan.
Untuk kegiatan seremonial, pada 2026, Pemprov Jabar hanya akan menyelenggarakan dua kegiatan seremonial, yakni peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Jadi Provinsi Jawa Barat.
Dedi menilai kedua kegiatan tersebut tetap perlu dilaksanakan karena berkaitan dengan spirit kebangsaan dan identitas daerah.
"Kegiatan-kegiatan pemerintah yang seremonial hanya dua, yaitu yang pertama peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia. Yang kedua adalah hari jadi Provinsi Jawa Barat," ujarnya.
Dedi bahkan mengatakan akan menghapus anggaran makan minum tamu yang sebelumnya Rp3,5 miliar menjadi hanya Rp500 juta, serta meniadakan anggaran perjalanan dinas gubernur.
"Gubernur sendiri secara personal sudah menghapus baju dinas, sudah menghapus kendaraan dinas dan saat ini 2026 kami menghapus perjalanan dinas. Dulu ada Rp1,5 miliar perjalanan dinas diturunkan menjadi Rp150 juta. Tahun 2026 ini saya tidak menggunakan lagi dana perjalanan dinas pemerintah," tegas Dedi.
Berita Terkait
-
Gubernur Dedi Mulyadi Larang Total Penanaman Sawit di Jawa Barat Mulai 2026
-
Adu Megah Dua Ikon Jabar: Masjid Nurul Wathon Ngebut 8 Bulan vs Al Jabbar Telan Dana Triliunan
-
Nama Aura Kasih Terseret Pusaran Korupsi Bank BJB, KPK Mulai Telusuri Aliran Dana dari RK
-
Daftar Lengkap UMK Jabar 2026: Kota Bekasi Paling Sultan, Daerah Kamu Berapa?
-
Viral 'Kampung Terpal Biru' di Gunung Guruh Bogor, Publik Colek Dedi Mulyadi hingga Rudy Susmanto
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
- Menkop Ferry Minta Alfamart dan Indomaret Stop Ekspansi Karena Mengancam Koperasi Merah Putih
Pilihan
-
SBY Sentil Doktrin Perang RI: Kalau Serangan Udara Hancurkan Jakarta, Bagaimana Hayo?
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
-
Bikin APBD Loyo! Anak Buah Purbaya Minta Pemerintah Daerah Stop Kenaikan TPP ASN
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
Terkini
-
Aksi Dini Hari Bupati Bogor Rudy Susmanto, Pimpin Korve Tambal Lubang Jalur Parung-Kemang
-
Hanya Mengaku Mencubit, ASN BPK Tersangka Penganiaya ART Tak Berkutik Saat Ditahan Polres Bogor
-
Hina Suku Sunda Saat Mabuk, YouTuber Resbob Didakwa Pasal Ujaran Kebencian di PN Bandung
-
Skandal Kematian NS di Sukabumi Makin Rumit! Kuasa Hukum Ibu Tiri TR Curigai Pihak Lain Terlibat
-
Misteri Kematian NS di Sukabumi, Pengacara Mira Widyawati Bongkar Kejanggalan dan Riwayat Kelam