-
Pengusaha tambang di tiga kecamatan siap menghibahkan lahan dan membantu pembangunan jalur khusus guna mempercepat proyek yang semula dua tahun menjadi satu tahun demi menjaga kelangsungan operasional bisnis mereka.
-
Kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Bogor, TNI, dan pengusaha tambang bertujuan mempercepat realisasi jalan khusus, mengingat para pengusaha tidak sanggup menunggu anggaran pemerintah yang memakan waktu hingga dua tahun anggaran.
-
Asosiasi pengusaha tambang mengusulkan pembukaan kembali operasional melalui jalur alternatif sementara kepada Gubernur Jawa Barat, guna menghindari kebangkrutan setelah empat bulan berhenti beroperasi namun tetap menanggung beban gaji.
SuaraJabar.id - Polemik jalur tambang di wilayah Bogor Barat yang kerap memicu konflik sosial dan kemacetan horor di Parungpanjang, akhirnya menemui titik terang yang progresif.
Setelah rentetan aksi demonstrasi warga dan penutupan operasional tambang yang mencekik ekonomi, para pengusaha tambang akhirnya mengambil langkah berani dan solutif.
Puluhan pengusaha tambang yang beroperasi di Kecamatan Cigudeg, Rumpin, dan Parungpanjang menyatakan kesiapannya untuk menghibahkan dan membebaskan lahan milik mereka demi percepatan pembangunan jalur khusus tambang.
Langkah ini disepakati sebagai jalan tengah agar roda ekonomi kembali berputar dan masyarakat terbebas dari debu serta bahaya truk di jalan umum.
Kesepakatan bersejarah ini lahir setelah pertemuan intensif antara Asosiasi Tambang Batuan Indonesia (ATBI) dengan Bupati Bogor, Rudy Susmanto, di Pendopo Bupati, Cibinong, pada Selasa, 13 Januari 2026.
Sekertaris Jenderal ATBI, Bisma Muhammad Normansyah, menegaskan bahwa komitmen pengusaha bukan hanya di atas kertas. Mereka siap terjun langsung membantu pemerintah daerah dan TNI dalam proses konstruksi.
"Sehingga dengan kebersamaan ini, harapannya akan kembali beroperasi tambang yang ada di wilayah Parungpanjang, Cigudeg dan Rumpin," kata Bisma usai pertemuan.
Para pengusaha menyadari bahwa birokrasi anggaran pemerintah memiliki keterbatasan waktu. Jika hanya mengandalkan APBD murni tanpa bantuan swasta, proyek ini bisa memakan waktu lama.
"Jadi kalau misalnya menggunakan tahun anggaran, itu bisa menghabiskan 2 tahun anggaran dan itu tidak memungkinkan bagi kami, teman-teman pengusaha tambang itu bertahan hingga 2 tahun yang akan datang," jelasnya.
Baca Juga: Dorong Lapangan Kerja Baru, Pemkab Bogor Buka Ruang Kolaborasi Seluas-luasnya Bagi Swasta
Oleh karena itu, kolaborasi ini diharapkan memangkas durasi pengerjaan. Dengan partisipasi swasta mulai dari pembebasan lahan hingga land clearing, proyek yang semula diprediksi memakan waktu dua tahun, ditargetkan bisa dibereskan hanya dalam satu tahun.
Isu krusial lain yang dibahas adalah nasib ribuan pekerja tambang yang terancam PHK. Saat ini, operasional tambang masih ditutup total atas instruksi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
"Karena sudah nafas 4 bulan itu kan juga kita tidak beroperasi juga, itu beban yang sangat berat beban yang sangat berat karena masih digaji meskipun tambang tidak beroperasi," jelas Bisma.
Untuk mencegah kolaps massal industri tambang di Bogor Barat, para pengusaha bersama Pemerintah Kabupaten Bogor berencana menemui Gubernur Dedi Mulyadi. Mereka akan mengajukan proposal pembukaan kembali operasional dengan skema trayek sementara sambil menunggu jalur khusus rampung.
Agar tidak kembali memicu kemarahan warga, ATBI menyiapkan skema pengaturan lalu lintas yang ketat sebagai syarat pembukaan kembali tambang.
"Akan mengusulkan bahwa ini bisa beroperasi dengan jalan alternatif yang sudah ada dengan catatan-catatan tertentu tentunya," ujar Bisma.
Berita Terkait
-
Dorong Lapangan Kerja Baru, Pemkab Bogor Buka Ruang Kolaborasi Seluas-luasnya Bagi Swasta
-
Karawang Siap 'Glow Up' Tiru Cara Bogor Benahi Utilitas Udara yang Membahayakan
-
Mengenal Simpadampro: Aplikasi Futuristik Damkar Bogor yang Bisa 'Ramal' Kebakaran
-
Kontrak Ratusan Ton Sampah Tangsel ke Cileungsi Terbongkar
-
Bikin Warga Gatal dan Bau Menyengat, Usaha Limbah B3 di Parungpanjang Disegel Pemkab Bogor
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
Terkini
-
BRI dan Holding UMi Dorong Jutaan Pelaku Usaha Ultra Mikro Naik Kelas
-
Kemarau Jabar: 325 Hektare Lahan Terbakar dan 215 Ribu KK Terdampak Kekeringan
-
Sindiran Pelatih Persib Usai Takluk di GBK: Persija Rayakan Kemenangan Seperti Juara Liga Champions
-
Tati Purwanti Kembangkan Bubur Cirebon di Taipei, Tumbuh Bersama Dukungan BRI
-
Jaga Kondusivitas Laga Persib-Persija, Kapolda Jabar Perintahkan Siaga Satu