Tragedi jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Maros meninggalkan kesedihan besar bagi keluarga pramugari Esther Aprilita di Bogor. Momen ini terasa sangat menyesakkan karena Esther baru saja berkumpul bersama keluarga besar untuk merayakan pergantian tahun kurang dari sebulan yang lalu.
Esther dikenal sebagai sosok wanita karier yang mandiri dan berdedikasi tinggi. Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara yang belum berkeluarga, ia menjadi tumpuan harapan serta panutan bagi adik-adiknya dalam membahagiakan orang tua.
Meskipun tenda dan kursi plastik (simbol duka) sudah disiapkan di rumah, pihak keluarga masih menyimpan secercah harapan akan adanya mukjizat. Keluarga kini berada dalam situasi menunggu kabar pasti dari tim SAR sambil tetap berserah diri pada takdir Tuhan.
SuaraJabar.id - Tragedi jatuhnya pesawat ATR 42-500 di pegunungan Maros, Sulawesi Selatan, menyisakan duka mendalam yang tak terperi bagi keluarga awak kabin.
Di Desa Bojong Koneng Ciherang, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, waktu seolah berhenti berputar bagi keluarga Esther Aprilita.
Sang pramugari muda yang dikenal berdedikasi tinggi itu kini nasibnya masih menjadi tanda tanya besar di benak orang-orang terkasihnya.
Meski secara visual, deretan kursi plastik hijau dan tenda putih telah terpasang di halaman rumah—sebuah simbol persiapan menyambut kepulangan jenazah dalam tradisi masyarakat kita namun di lubuk hati terdalam, nyala harapan itu belum padam.
Keluarga Esther Aprilita masih memiliki sedikit harapan agar pramugari pesawat ATR 42-500 itu masih bisa hidup dan berkumpul kembali di tengah kehangatan rumah.
Rasa sesak tak bisa disembunyikan oleh pihak keluarga. Paman Esther, Arya, dengan mata berkaca-kaca menyampaikan betapa terpukulnya seluruh kerabat. Kabar duka pesawat ATR 42-500 itu membuat sesak dada keluarga, seolah mimpi buruk yang datang terlalu cepat.
Pasalnya, memori kebersamaan mereka masih sangat segar dalam ingatan. Belum genap satu bulan Esther berada di tengah keluarga besar untuk merayakan pergantian tahun. Momen bahagia itu kini berubah menjadi kenangan yang menyayat hati.
"Kaget lah, malem tahun baru masih kumpul sini," kata Arya saat ditemui di kediamannya, Senin 19 Januari 2026.
Bagi generasi milenial, sosok Esther adalah representasi wanita karier yang sukses dan mandiri. Ia bukan sekadar pramugari, melainkan tumpuan harapan. Esther merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ia memiliki satu adik perempuan dan satu adik laki-laki yang menjadikannya panutan.
Baca Juga: Bau Amis Dugaan 'Beking' Aparat di Tambang Emas Ilegal Gunung Guruh Tercium Kejagung
Di mata keluarga, Esther merupakan anak kesayangan karena memiliki karir yang baik dan masih *single* alias belum berkeluarga, sehingga fokusnya selama ini tercurah penuh untuk membahagiakan orang tua dan adik-adiknya.
"Belum menikah," singkat Arya menjelaskan status keponakannya tersebut.
Arya mengaku, meski depan rumah sudah disediakan kursi plastik dan tenda untuk tetangga atau kerabat yang hendak datang saat jasad Esther tiba, namun doa-doa untuk keselamatan Esther terus dipanjatkan tanpa henti.
"Untuk hidup itu pasti tapi ya itu kan jika tuhan izinkan dia selamat Alhamdulillah puji tuhan, istilahnya harapan itu berapa persen lagi lah harapan," jelas Arya dengan nada yang mencoba tegar.
Bagi keluarga, mukjizat adalah satu-satunya yang mereka nantikan saat ini. Mereka menyerahkan segalanya pada takdir Tuhan, sambil terus memantau layar televisi dan ponsel menunggu kabar dari tim SAR di Maros.
"Kalau Keluarga pengen kali lah semua keluarga hidup, tapi gimana tuhan merencanakan," tutup Arya.
Berita Terkait
-
Bau Amis Dugaan 'Beking' Aparat di Tambang Emas Ilegal Gunung Guruh Tercium Kejagung
-
Tak Mau Ada Celah Korupsi! Bupati Bogor Gandeng KPK 'Pelototi' Proyek Tambang dan Jalan Leuwiliang
-
Mahasiswa di Bogor Akhiri Hidup di Kosan, Diduga Depresi Akibat Terjerat Judol
-
Tenda Putih Terpasang di Bogor, Keluarga Pramugari Esther Aprilita Pasrah Menanti Kabar dari Maros
-
Basarnas Pantau Ketat Kebakaran di Kedalaman Tambang Emas Pongkor
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Empat Sekolah di Bandung Dapat Dukungan Program Literasi, Siswa Dikenalkan Mitigasi Bencana
-
Sukabumi Rawan Keracunan Pangan, Dinkes Minta Dapur MBG Perketat Pengawasan
-
Agus Suparmanto: Pemecatan oleh Mardiono Langgar AD/ART, Tak Disahkan Menkum
-
Ciamis Terima 15.600 Ayam Petelur, Produksi Telur Ditargetkan 780 Kg per Hari
-
Diteken di Bandung, Indonesia dan Malaysia Perkuat Kerja Sama Ekonomi dan Sosial di Perbatasan