Andi Ahmad S
Selasa, 14 April 2026 | 20:49 WIB
Ilustrasi musim kemarau di Jawa Barat.(Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang)
Baca 10 detik
  • BMKG menyatakan sebagian wilayah Jawa Barat telah memasuki musim kemarau sejak April 2026 secara bertahap hingga Juni.
  • Sebanyak 66 persen wilayah Jawa Barat diprediksi mengalami musim kemarau lebih cepat dengan durasi yang cenderung panjang.
  • BMKG mengimbau masyarakat menghemat air serta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap risiko kekeringan dan potensi kebakaran hutan di wilayahnya.

SuaraJabar.id - Kabar penting bagi seluruh warga Jawa Barat dan sekitarnya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan bahwa sebagian besar wilayah Jawa Barat telah resmi memasuki musim kemarau.

Prakirawan Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Vivi Indhira mengatakan musim kemarau sudah mulai terjadi bulan April ini di wilayah Karawang tengah, Subang tengah, serta sebagian wilayah Indramayu.

"Sebanyak 56 persen wilayah di Jawa Barat diprediksi akan memasuki musim kemarau pada bulan Mei," katanya dilansir dari Antara, Selasa (14/4/2026).

Ia menjelaskan, wilayah lain seperti sebagian besar Kabupaten Bogor, Sukabumi utara, Cianjur tengah, hingga Kota Bandung diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada Juni.

Vivi mengatakan, secara keseluruhan sekitar 66 persen wilayah Jawa Barat diprediksi mengalami musim kemarau lebih cepat dibandingkan kondisi normal, sementara 25 persen sesuai kondisi normal dan 7 persen lainnya lebih lambat.

BMKG juga memprediksi kondisi musim kemarau tahun ini cenderung kering, dengan sekitar 93 persen wilayah mengalami kemarau di bawah normal.

Ia menyebut puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus di sekitar 90 persen wilayah Jawa Barat, sementara sebagian kecil wilayah lainnya mengalami puncak pada Juli dan September.

"Wilayah di Jawa Barat diprediksi mengalami durasi musim kemarau lebih panjang atau lebih lama dari biasanya," kata dia.

BMKG mengimbau pemerintah dan masyarakat untuk mengantisipasi dampak kekeringan dengan mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air, seperti waduk dan embung, serta melakukan penghematan penggunaan air.

Baca Juga: Siswa SMP yang Dibawa Lari Agya Ditemukan, Polisi Ungkap Peran Driver Ojol dalam Rekaman CCTV

Untuk sektor pertanian, petani diminta menyesuaikan kalender tanam dan menggunakan varietas tanaman tahan kekeringan.

"Untuk sektor kebencanaan, dimohon kesiapsiagaan terhadap potensi kekeringan dan kejadian kebakaran hutan dan lokal," kata dia. [Antara].

Load More