Andi Ahmad S
Kamis, 04 Juni 2026 | 21:15 WIB
Mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana digiring oleh petugas di Gedung Jampidsus Kejagung, Jakarta, Rabu (3/6/2026). (ANTARA/Nadia Putri Rahmani)
Baca 10 detik
  • Presiden Prabowo melakukan sidak Program Makan Bergizi Gratis di Jakarta untuk memastikan kualitas layanan bagi siswa.
  • Kejaksaan Agung menahan mantan Kepala BGN Dadan Hindayana beserta dua wakilnya atas dugaan korupsi anggaran negara.
  • Ketiga tersangka terbukti melakukan penggelembungan harga serta penunjukan yayasan terafiliasi yang merugikan negara sebesar Rp1 triliun.

SuaraJabar.id - Indonesia menyaksikan rangkaian peristiwa luar biasa selama 72 jam terakhir yang mengguncang pilar Program Strategis Nasional, Makan Bergizi Gratis (MBG).

Rentetan kejadian mulai dari kunjungan lapangan Presiden Prabowo Subianto hingga penahanan mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana (DH) oleh Kejaksaan Agung, menyiratkan sinyal pembersihan besar-besaran di tubuh birokrasi.

Tiga hari penuh ketegangan ini mengungkap tabir gelap di balik pengelolaan anggaran gizi yang melonjak drastis menjadi Rp268 triliun pada tahun 2026.

Drama dimulai pada Selasa pagi pukul 09.30 WIB. Presiden Prabowo Subianto melakukan inspeksi mendadak ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Palmerah.

Mengenakan hair net dan sarung tangan medis, Presiden menelusuri setiap inci rantai produksi—mulai dari kolam ikan dan rumah kaca hingga tahap pengemasan.

Dadan Hindayana, yang baru saja menginjakkan kaki di tanah air pasca ibadah haji sehari sebelumnya, mendampingi Presiden tanpa menyadari bahwa itu adalah jam-jam terakhir masa jabatannya.

Langkah "tangan kanan" Presiden ini berlanjut ke SMPN 111 Jakarta, di mana ia makan satu ompreng dengan para siswa, sebuah gestur simbolis yang menunjukkan pemantauan kualitas secara langsung.

Mensesneg Prasetyo Hadi mengumumkan pencopotan Dadan Hindayana beserta dua wakilnya, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung. Posisi Kepala BGN resmi beralih ke tangan Nanik S. Deyang.

Peralihan kekuasaan diikuti dengan tindakan hukum kilat. Rabu dini hari pukul 02.00 WIB, tim penyidik Jampidsus Kejaksaan Agung menggeledah kantor BGN dan menjemput paksa ketiga eks pimpinan tersebut.

Baca Juga: Drama Jemput Paksa Petinggi BGN: Dadan Diciduk di Bogor, Satu Tersangka Sembunyi di Hotel

Sore harinya, ketiganya keluar dari Gedung Bundar dengan tangan terborgol dan mengenakan rompi merah muda (pink).

Presiden Prabowo berdiri di hadapan 12.173 penggerak MBG di SICC, Bogor. Dalam pidato yang penuh emosi, Presiden membawa dua piring ayam goreng ke atas panggung untuk membedah masalah teknis.

"Kalau potong (ayam) lebih dari 14, dosa! Dosa! Berapa juta anak-anak Indonesia akan kecewa?" tegas Prabowo.

Ia bahkan melarang menu telur dadar karena rentan dimanipulasi dengan campuran tepung, dan menginstruksikan telur harus direbus atau diceplok utuh.

Kejaksaan Agung mengungkap skema korupsi yang sangat sistematis di dalam BGN. Direktur Penyidikan Jampidsus, Syarief Sulaeman Nahdi, membeberkan beberapa temuan kunci:

  • Mark-up Pengadaan: Penggelembungan harga pada pengadaan motor listrik dan sepatu dengan total kerugian negara ditaksir mencapai Rp1 triliun.
  • Yayasan Terafiliasi: Ketiga tersangka diduga menunjuk yayasan milik pribadi atau jaringan politik mereka sebagai mitra SPPG. Yayasan-yayasan ini meraup insentif miliaran rupiah per hari dari dana negara.
  • Jual Beli Wilayah: Adanya indikasi praktik transaksional terkait penentuan titik lokasi dapur operasional.

Skandal ini sebenarnya bukan tanpa peringatan. Sejak September 2025, Ombudsman RI telah merilis laporan kajian cepat mengenai empat potensi maladministrasi dalam MBG, termasuk keracunan massal dan keterlambatan honorarium staf.

Load More