Andi Ahmad S
Selasa, 21 Juli 2026 | 22:47 WIB
Rombongan Gubernur Banten saat meninjau proses pembangunan Jembatan Piano di Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang [Yandi Sofyan/SuaraBanten]
Baca 10 detik
  • Pemerintah Provinsi Banten mulai memperbaiki Jembatan Piano di Kabupaten Serang yang telah rusak parah selama 25 tahun.
  • Proyek jembatan baru ini ditargetkan selesai November 2026 dengan lebar lima meter untuk memperlancar akses mobilitas warga.
  • Pembangunan infrastruktur tersebut bertujuan meningkatkan sektor pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat setelah sempat lama terbengkalai dan berbahaya.

SuaraJabar.id - Jembatan Piano di Desa Mekarsari, Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang, Banten, yang menjadi penghubung ke wilayah Kabupaten Tangerang mulai diperbaiki usai 25 tahun kondisinya rusak parah.

Kondisi balok-balok kayu yang tersusun di lantai jembatan mulai lapuk dan berlubang dimakan usia. Bahkan papan-papan tersebut sudah terlihat renggang.

Gesekan kayu yang ditimbulkan saat kendaraan melintas menyerupai bunyi tuts piano. Dari situlah asal muasal masyarakat setempat menyebutnya Jembatan Piano.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, jembatan yang memiliki lebar sekitar 2,5 meter dengan panjang sekitar 55 meter tersebut dibangun secara swadaya oleh masyarakat sekitar tahun 2001 silam.

Salah seorang tokoh masyarakat Desa Mekarsari, Gulamudin mengatakan, masyarakat setempat sempat merasa hilang kepercayaan dirinya terhadap pejabat publik yang sesumbar akan memperbaiki Jembatan Piano.

Pasalnya, kata Gulamudin, hampir setiap calon kepala daerah selalu datang mengunjungi Jembatan Piano dan menjanjikan akan memperbaiki, meski hal itu tak kunjung terealisasi.

"Sampai ada janji dari Pak Gubernur (Andra Soni) untuk memperbaiki di sini sudah apatis. Sudah cuek aja karena terlalu sering dijanjikan. Tapi ternyata tidak. Setelah dijanjikan, ditinjau, kemudian tidak lama langsung diperbaiki," kata Gulamudin, Selasa (21/7/2026).

"Ini sungguh luar biasa, terima kasih Pak Andra Soni," imbuhnya.

Diungkapkan Gulamudin, kondisi jembatan yang mengalami kerusakan sempat membuat sejumlah kendaraan harus mengalami kecelakaan saat melintasi jembatan tersebut. Termasuk sejumlah kendaraan roda empat yang harus nyangkut lantaran balok kayu di lantai jembatan yang sudah renggang.

Baca Juga: Menteri Wihaji: Membangun Manusia Tak Seperti Bikin Jalan, Hasilnya Baru Terlihat Jangka Panjang

"Jembatan yang lana itu sudah banyak memakan korban. Motor juga ada yang jatuh, kalau mobil seringnya nyangkut. Apalagi pas musim hujan," ujarnya.

Diakui Gulamudin, dulu masyarakat setempat yang akan melintas di Desa Mekarsari terpaksa harus menggunakan perahu kayu, sehingga hal itu yang menjadi inisiasi dibangunnya jembatan secara swadaya oleh masyarakat kala itu.

"Dulunya sebelum ada jembatan ini, masyarakat yang melintas menggunakan perahu," ucap Gulamudin.

Sementara itu, Gubernur Banten Andra Soni mengaku, pembangunan Jembatan Piano dilakukan usai menerima aspirasi dari masyarakat. Hingga kini, prosesi pembangunan sudah berjalan sekitar 30 persen dan diproyeksikan selesai pada November 2026.

"Kalau jembatan yang lama itu hanya sekitar 2,5 meter dan dengan kondisi seadanya, bisa dilalui oleh satu mobil. Di jembatan yang baru ini bisa untuk dua mobil dengan lebar 5 meter dan bentangan sampai 60 meter," kata Andra.

Ia menerangkan, pembangunan infrastruktur merpati bagian dari komitmen pihaknya dalam rangka memberikan harapan baik bagi masyarakat, terutama anak-anak.

Load More