alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Jembatan Gantung Buatan Belanda Ini Berusia 100 Tahun, Berani Lewat?

Ari Syahril Ramadhan Minggu, 07 Maret 2021 | 11:30 WIB

Jembatan Gantung Buatan Belanda Ini Berusia 100 Tahun, Berani Lewat?
Jembatan gantung yang dibangun pada medio 1905-1910 ini hingga saat ini masih digunakan oleh warga meski kondisinya sudah mengkhawatirkan. [Suara.com/Ferrye Bangkit Rizki]

Baut-baut pun tak sekuat dulu, dan besinya terlihat sudah sangat berkarat. Padahal jembatan ini merupakan akses penghubung antara dua kecamatan di Kabupaten Bandung Barat.

SuaraJabar.id - Jembatan gantung penghubung Kecamatan Gununghalu-Kecamatan Rongga menjadi salah satu bangunan bersejarah di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Jembatan itu dibangun sekitar tahun 1905-1910.

Sayang, kondisi jembatan yang disebut warga Sasak Gantung itu kini tak terawat dan memprihatinkan. Landasan yang terbuat dari kayu mulai lapuk, seling jembatan sudah tak setegang dulu.

Baut-baut pun tak sekuat dulu, dan besinya terlihat sudah sangat berkarat. Jembatan gantung dekat pabrik teh zaman Belanda itu pun sangat membahayakan bagi warga yang melintas.

Padahal, jembatan gantung tersebut merupakan akses penghubung utama antardesa dan kecamatan. Yakni Desa Gunijaya, Kecamatan Gununghalu dengan Desa Cibedug, Kecamatan Rongga.

Baca Juga: Sempat Menolak, Warga Sariwangi Akhirnya Mau Dievakuasi ke Hotel Cherrish

"Iya informasinya itu produk Belanda. Tapi kurang tau detail. Dan sekarang kondisinya sangat mengkhawatirkan," ujar Den Bujal (40), warga Kampung Dukuh, RT 03/10, Desa Bunijaya, Kecamatan Gununghalu, KBB kepada Suara.com, baru-baru ini.

Kondisi jembatan tersebut, kata dia, membuat warga yang melintas khawatir meskipun terpaksa tetap digunakan.

Pasalnya, jembatan tersebut merupakan akses utama dan terdekat untuk melakukan berbagai aktivitas warga di dua desa dan kecamatan tersebut.

Memang masih ada akses lain. Namun harus memutar melewati perkebunan teh, yang menurut Den harus ditempuh dengan jarak sekitar 5 kilometer dan memakan waktu.

"Kalau warga Desa Bunijaya ingin ke pasar, itu lebih dekat ke Desa Cibedug. Jadi harus nyebrang jembatan. Kalau mobil sekarang kebanyakan gak berani lewat sana," bebernya.

Baca Juga: Selebgram Cantik Tak Malu Jualan Ayam di Pasar, Omzetnya Bikin Melongo

Tepat berada di bawah jembatan tersebut, ada aliran sungai yang disebut warga Sungai Larangan. Sungai tersebut mengalir ke proyek Uper Cisokan dan Curug Malela.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait