"Setiap musim kemarau memang selalu dimanfaatkan untuk nyari ikan. Kalau lagi musim hujan paling mancing, gak bisa langsung pakai jaring," ujar Dedi.
Dari tahun 1993 Dedi sudah menjadi nelayan musiman di Situ Ciburuy yang dibuat sekitar tahun 1800-an oleh Bempi atas pesuruh Ratu Wilhelmina dari Belanda. Dedi menjadikan rutinitas ini sebagai mata pencaharian dikala ordernya sedang sepi.
Dedi sehari-harinya merupakan buruh bangunan. Namun sejak pandemi COVID-19 ini panggilan untuk memanfaatkan jasanya sangat jarang. Ia pun semakin menguras keringatnya untuk mencari ikan.
Dalam sehari, ia bisa mendapat hasil tangkapan sekitar 10 kilogram ikan nila segar. Namun jika sedang sulit, Dedi hanya mendapat sekitar 5 kilogram ikan hasil tangkapannya dengan menyusuri Situ Ciburuy seluas 25 hektare.
Baca Juga:Sepi Wisatawan, Kawasan Wisata Lembang Jadi Mirip Kota Mati
Ikan-ikan itu dijualnya seharga Rp 15 ribu per kilogram. Artinya jika sehari ada 10 kilogram yang ditangkap, maka ia bisa mendapatkan pundi-pundi rupiah hingga Rp 150 ribu untuk dibawa pulang ke rumah.
"Kalau enggak ada yang beli, buat dimasak di rumah dan dibagikan ke keluarga," ucap Dedi.
Ia memprediksi musim kemarau masih akan berlangsung hingga akhir tahun nanti. Sehingga disisa waktu ini, ia terus memanfaatkannya untuk mencari ikan-ikan segar yang bisa membantu perekonomian keluarganya.
Situ Ciburuy yang dibangun zaman Belanda sendiri dijadikan objek wisata air.
Bahkan, kini renovasi kawasan tersebut tengah direnovasi Pemkab Bandung Barat dengan bantuan anggaran dari Pemporv Jabar.
Baca Juga:Dapat 1 Ton Ikan dalam Sehari, Nelayan Pangandaran Panen Berkah
Kontributor : Ferrye Bangkit Rizki