alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Benteng Gedong Belanda, Saksi Bisu Peninggalan Belanda di Pelosok Bandung Barat

Andi Ahmad S Sabtu, 25 September 2021 | 13:58 WIB

Benteng Gedong Belanda, Saksi Bisu Peninggalan Belanda di Pelosok Bandung Barat
Benteng Gedong Belanda di Kampung Cimalik RT 04, Rw 05, Desa Karanganyar, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat [Suarajabar.id/Ferry]

Benteng tersebut juga jadi saksi bisu Kerja Rodi dan sistem upah murah yang diterapkan pemerintah kolonial, selain tentunya menjadi Selain jadi bukti pertahanan militer Beland

SuaraJabar.id - Indonesia dijajah Belanda sekitar 3,5 abad lamanya. Jejak peninggalan pemerintah kolonial Belanda tidak banyak dijumpai di hampir seluruh wilayah Nusantara.

Salah satunya di Kabupaten Bandung Barat (KBB), tepatnya Kampung Cimalik RT 04, Rw 05, Desa Karanganyar, Kecamatan Cililin. Di tempat tersebut, ada sebuah benteng Gedong Belanda yang masih berdiri kokoh hingga kini.

Benteng tersebut juga jadi saksi bisu Kerja Rodi dan sistem upah murah yang diterapkan pemerintah kolonial, selain tentunya menjadi Selain jadi bukti pertahanan militer Belanda di wilayah selatan.

Berdasarkan catatan sejarah yang didapat dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) KBB, Benteng Gedong Belanda dikerjakan oleh masyarakat Bumi Putera yang dibayar sebesar 3 sen per hari. Situs Gedong Belanda dibangun tahun 1912 dan rampung tahun 1918.

Baca Juga: Makna Dibalik Tradisi Ngamandian Goong Si Beser di Bandung Barat

"Bisa jadi dari pemerintah Hindia Belanda upahnya sesuai standar waktu itu. Tapi mungkin disunat oleh para pejabat lokal," terang Kepala Seksi Sejarah dan Cagar Budaya pada Disparbud Bandung Barat, Asep Diki Hidayat, belum lama ini.

Benteng tersebut dibangun atas perintah Kerajaan Kolonial Belanda bertujuan untuk mempertahankan tanah hasil jajahannya di Indonesia. Belanda saat ini menerapkan sistem tanam paksa atau cultuurstelsel.

Dengan aturan itu para petani pribumi wajib menyisihkan sebagian lahannya untuk ditanami komoditas ekspor atau bekerja suka rela menggarap tanah pemerintah. Sistem tanam paksa ini dibuat oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada 1830.

Van den Bosch mewajibkan para petani menyediakan seperlima atau 20 persen lahannya untuk ditanami komoditas yang sangat laku di pasar Eropa. Komoditas yang dimaksud di antaranya gula, kopi, serta nila atau tarum. Tanaman ini ditanam di samping padi yang digarap petani.

Pembangunan benteng tersebut tak lain untuk mengamankan lahan-lahan tersebut. Apalagi saat itu tengah berkecamuk Perang Dunia I pada tahun 1914 hingga tahun 1918. Negara yang terlibat yaitu, Jerman, Turki dan sekutunya, melawan blok Inggris, Prancis, Amerika Serikat, Rusia dan lainnya.

Baca Juga: Wisatawan Bisa Ikuti Vaksinasi Covid-19 di Tempat Wisata di Bandung Barat Ini

"Kedua kubu itu berlomba untuk memperebutkan tanah jajahannya," ucap Asep.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait