- Gus Miftah mendorong pesantren mengembangkan sektor agro industri untuk memperkuat kemandirian ekonomi umat di Indonesia.
- Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri kegiatan PMKNU di Cirebon pada Sabtu, 16 Mei 2026 mendatang.
- Pesantren memiliki modal lahan serta SDM untuk menciptakan solusi ekonomi produktif bagi santri dan masyarakat.
SuaraJabar.id - Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah menegaskan pentingnya peran pesantren dalam memperkuat ekonomi umat melalui sektor agro industri.
Hal itu disampaikannya saat menghadiri kegiatan Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU) di Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (16/5/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Gus Miftah hadir bersama Ipang Wahid dan Imam Jazuli.
Ia menilai Nahdlatul Ulama tidak cukup hanya berfokus pada dakwah dan pendidikan, tetapi juga harus hadir dalam isu strategis seperti ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi masyarakat.
Baca Juga:Hilal Tidak Terlihat di Jawa Barat, Puasa 1 Ramadan 1447 H Hari Kamis?
Menurut Gus Miftah, pesantren memiliki modal besar untuk berkembang menjadi pusat pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas.
Mulai dari lahan, sumber daya manusia, hingga jaringan sosial yang kuat dinilai menjadi fondasi penting untuk membangun sektor agro industri modern.
“Pesantren punya lahan, punya komunitas, punya jaringan, dan punya SDM. Tinggal bagaimana semua itu dikelola lebih modern, produktif, dan berkelanjutan,” kata Gus Miftah.
Ia menyebut sektor agro industri sangat dekat dengan kehidupan mayoritas masyarakat Indonesia.
Bidang pertanian, peternakan, perkebunan, hingga pengolahan hasil pangan disebut memiliki peluang besar untuk membuka ruang pemberdayaan baru bagi santri dan warga nahdliyin.
Baca Juga:Haram Pertahankan Koruptor! Puluhan Kiai Muda NU Desak PBNU Pecat Gus Yaqut dan Kader Tersangka KPK
Dalam forum PMKNU tersebut, kader muda NU juga didorong untuk memiliki kemampuan membaca tantangan zaman.
Tidak hanya memahami organisasi dan nilai keagamaan, mereka diharapkan mampu menghadirkan solusi konkret di bidang ekonomi dan sosial.
“Ke depan, NU harus melahirkan lebih banyak kader yang mampu menghubungkan nilai-nilai pesantren dengan kebutuhan zaman,” ungkapnya.
“Bukan hanya kuat secara moral dan spiritual, tapi juga mandiri secara ekonomi,” tegas Gus Miftah.
Sebagai informasi, PMKNU merupakan bagian dari proses kaderisasi kepemimpinan di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Program ini bertujuan mencetak kader muda yang adaptif, progresif, dan tetap berakar pada nilai-nilai ke-NU-an.