Andi Ahmad S
Minggu, 30 November 2025 | 14:16 WIB
Bupati Bandung Dadang Supriatna (tengah) saat memberikan keterangan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (29/11/2025). ANTARA/HO-Diskominfo Kabupaten Bandung
Baca 10 detik
  • Polresta Bandung menyelidiki kerusakan 150 hektare kebun teh Pangalengan akibat penebangan ilegal dan alih fungsi menjadi lahan kentang, kini sudah naik penyidikan. 

  • Polisi sedang mengejar aktor utama dan pihak bermodal besar yang mendanai atau menggerakkan warga untuk melakukan penebangan pohon teh secara ilegal. 

  • Bupati Bandung Dadang Supriatna menegaskan penebangan ilegal kebun teh Pangalengan memicu banjir bandang, dan ia mendesak agar kejadian ini tidak terulang.

SuaraJabar.id - Kabar kurang sedap datang dari salah satu destinasi wisata favorit warga Jawa Barat dan Jakarta, yakni Pangalengan. Kawasan yang selama ini dikenal dengan hamparan kebun teh hijau nan estetik alias Instagramable, kini sedang menghadapi ancaman serius kerusakan ekologis.

Kepolisian Resor Kota Bandung tengah bergerak cepat menyelidiki kasus dugaan alih fungsi lahan kebun teh yang mengalami kerusakan parah akibat penebangan ilegal.

Tidak tanggung-tanggung, luas area yang dibabat mencapai sekitar 150 hektare. Fenomena ini memicu kekhawatiran besar, mengingat Pangalengan adalah daerah resapan air yang vital bagi wilayah Bandung Raya.

Kapolresta Bandung, Kombes Pol Aldi Subartono, menegaskan bahwa kasus ini bukan lagi sekadar aduan masyarakat, melainkan sudah masuk tahap serius.

“Kami informasikan untuk perkembangan kasus perusakan di kebun teh Pangalengan, sudah ada laporan-laporan sebelumnya dan sudah naik ke penyidikan,” kata Aldi dilansir dari Antara, Minggu 30 November 2025.

Penyelidikan mendalam mengungkap fakta bahwa aksi perusakan alam ini tidak berdiri sendiri. Ada indikasi kuat keterlibatan pihak bermodal besar atau 'cukong' yang membiayai operasi penebangan massal tersebut.

Motif utamanya adalah ekonomi jangka pendek mengubah kebun teh yang berfungsi menahan air menjadi lahan pertanian kentang yang dinilai lebih menguntungkan secara instan, namun merusak struktur tanah.

Kombes Pol Aldi menjelaskan bahwa pihaknya telah memeriksa sejumlah saksi untuk membongkar struktur jaringan perusak lingkungan ini. Polisi tidak hanya menyasar warga yang menebang, tetapi fokus mengejar aktor intelektual di belakang layar.

“Kami sudah memeriksa beberapa saksi. Saat ini sedang dilakukan pendalaman terkait peran masing-masing, termasuk kami akan mengejar aktor utama,” ujarnya.

Baca Juga: Polresta Bandung Tetapkan Lima Tersangka Kasus Pengeroyokan Juru Parkir, Pelaku Anggota Geng Motor

Peran pemodal ini sangat krusial karena merekalah yang diduga menggerakkan warga lokal dengan iming-iming uang.

“Kami akan mengejar siapa orang yang mendanai atau sebagai donatur yang memberikan uang kepada masyarakat untuk melakukan penebangan pohon-pohon teh itu,” tegas Aldi.

Dampak dari alih fungsi lahan yang ugal-ugalan ini ternyata sudah dirasakan langsung oleh masyarakat. Bupati Bandung, Dadang Supriatna, tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya.

Ia menyebutkan bahwa pembabatan pohon teh secara ilegal di Kecamatan Pangalengan telah menjadi biang kerok terjadinya banjir bandang yang menerjang permukiman warga baru-baru ini.

Dadang mengingatkan bahwa Pangalengan adalah aset wisata dan kekayaan alam yang harus dijaga. Jika ekosistemnya rusak, maka keselamatan nyawa warga yang menjadi taruhannya.

“Sudah terjadi penebangan pohon teh yang menyebabkan banjir bandang. Pak Camat, Pak Dewan, dan masyarakat juga sudah mengeluhkan hal ini. Kami bergerak cepat agar kejadian ini tidak terulang kembali,” katanya.

Load More