Bukan Healing, Nongkrong di Jalan Asia Afrika dan Alun-alun Bandung Malah Bikin Was-was

Ketiga perempuan itu tiba-tiba dihampiri seorang lelaki berkalung gitar. Lelaki itu berdiri tepat di depan mereka dan mulai mengayuh senar gitarnya.

Ari Syahril Ramadhan
Rabu, 05 Januari 2022 | 18:47 WIB
Bukan Healing, Nongkrong di Jalan Asia Afrika dan Alun-alun Bandung Malah Bikin Was-was
Kawasan Jalan Asia-Afrika atau sekitaran Alun-alun Kota Bandung tampak didatangi sejumlah pengunjung, Rabu (5/1/2022). [M Dikdik RA/Suara.com]

SuaraJabar.id - Kawasan Jalan Asia-Afrika atau sekitaran Alun-alun Bandung menyisakan keresahan bagi warga. Sederet kasus mengemuka, dari aksi kawanan copet yang pernah marak di tahun lalu, hingga teranyar kejadian tukang tato yang memeras dan menghajar seorang warga.

Belakangan juga viral kasus jual paksa minuman kopi dalam kemasan. Belum lagi, cerita berulang soal oknum pengamen yang jauh dari kesan ramah, doyan memaksa, dan sering ngedumel jika tak diberi uang.

Tak kalah menyita perhatian, terkhusus di jagat maya, adalah keluhan terhadap kondisi jembatan penyeberangan orang (JPO) Asia-Afrika yang tak terurus plus semerbak bau pesing.

Warga yang niat tamasya kota di sekitaran Asia-Afrika atau kawasan alun-alun pun jadinya dibuat tak nyaman. Beberapa pengunjung yang ditemui suara.com di kawasan Asia-Afrika berbagi keresahan itu.

Baca Juga:Beli Motor Cash Tiba-tiba Ditagih Cicilan Leasing, Netizen Auto Geram ke Debt Collector

Seorang mahasiswa, Nabila Nurul (19), adalah contohnya. Sebelumnya, dari kejauhan, ia terlihat tengah duduk di kursi trotoar Asia Afrika bersama dua perempuan lain. Satu terlihat sebaya, satu lagi masih anak.

Ketiga perempuan itu tiba-tiba dihampiri seorang lelaki berkalung gitar. Lelaki itu berdiri tepat d idepan mereka dan mulai mengayuh senar gitarnya. Dengan gestur sopan, Nabila tampak mengangkat tangan. Tetapi, si lelaki itu bergeming, cuek saja menggembereng, tak hirau.

Selang berapa waktu, si lelaki masih terus di hadapan mereka. Situasi makin kaku, ketiga perempuan itu jadi agak tertunduk, dan Nabila pun akhirnya mengalah. Ia merogoh saku dan menyodorkan selembar uang. Si lelaki tadi langsung melengos.

Saat ditemui suara.com, Nabila mengaku merasa tak nyaman, merasa dipaksa. Baginya, pengalaman tak nyaman itu bukan pertama kali, dan setiap itu terjadi ia merasa tertekan. Walaupun, Nabila tahu tak semua pengamen berperangai seperti tadi. Tak sedikit juga yang ramah dan tak memaksa.

"Lumayan sering main ke alun-alun. Biasanya sama keluarga atau sendiri," katanya.

Baca Juga:Miris! Dugaan Kekerasan Seksual di Pesantren Kembali Terjadi di Bandung

Nabila mengaku mengetahui beberapa riwayat kasus di alun-alun, seperti pencopetan atau jual paksa kopi kemasan yang belakangan viral. Ia mengaku, sering jadi was-was saat main di alun-alun.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak