- Estate Management Director Agung Sedayu Group, Restu Mahesa, membagikan pengalaman penerapan Sustainable Smart City di PIK dalam SBM ITB Short Program for International 2026 secara daring pada Rabu (12/8/2026).
- Restu menekankan pentingnya kolaborasi pentahelix yang melibatkan bisnis, akademisi, pemerintah, dan sektor swasta untuk menghadapi berbagai tantangan pembangunan kota yang berkelanjutan.
- Pertemuan antara praktisi dan akademisi tersebut bertujuan memberikan masukan mengenai pembangunan kawasan modern yang tetap memerhatikan aspek sosial dan lingkungan.
SuaraJabar.id - Pembangunan kota berkelanjutan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah, akademisi, dunia usaha, hingga masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi dalam menghadapi berbagai tantangan perkotaan.
Pentingnya kolaborasi tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam SBM ITB Short Program for International 2026 yang menghadirkan Estate Management Director Agung Sedayu Group Restu Mahesa.
Dalam sesi yang berlangsung secara daring, Restu membagikan pengalaman mengenai penerapan Sustainable Smart City dalam pengembangan kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK).
Menurut Restu, kolaborasi menjadi bagian penting dalam konsep sustainability. Sebab, pengembangan kota tidak dapat mengandalkan satu sektor saja.
Baca Juga:PERADI Profesional dan Universitas Islam Bandung Jalin Kemitraan Strategis Perkuat Pendidikan Hukum
“Dalam konsep sustainability ada pentahelix. Ada bisnis, ada education, ada akademia, ada government, dan ada private sector,” kata Restu, Rabu (12/8/2026).
Melalui keterlibatan dalam program tersebut, Agung Sedayu Group mengambil posisi sebagai praktisi yang membagikan pengalaman pengelolaan kawasan kepada lingkungan akademik.
Restu mengatakan, pengalaman dari lapangan dapat memberikan gambaran mengenai tantangan maupun praktik dalam membangun kawasan modern tanpa mengesampingkan kepentingan sosial dan lingkungan.
“Kita hari ini mewakili private sector memberikan masukan kepada akademia bagaimana perkembangan mengenai suatu kota yang dibangun dengan sangat modern, tapi tidak melupakan aspek sosial dan juga aspek lingkungan,” tuturnya.
Pertemuan antara praktisi dan akademisi dinilai penting karena keduanya memiliki pendekatan berbeda yang dapat saling melengkapi.
Baca Juga:Tak Cukup Satu Tersangka, Pengacara Minta Polres Sukabumi Kota Tahan BHW dan Buru Penerima Video
Industri memiliki pengalaman dalam implementasi dan pengelolaan kawasan secara langsung. Sementara dunia akademik memiliki ruang untuk melakukan penelitian, evaluasi, serta mengembangkan berbagai gagasan baru.
Pertukaran perspektif tersebut membuka peluang bagi munculnya inovasi yang dapat diterapkan dalam pengembangan kawasan di masa mendatang.
Dalam kesempatan itu, Restu juga membagikan pengalaman Agung Sedayu Group dalam mengembangkan Sustainable Smart City berdasarkan pendekatan community-based tourism.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana pengembangan kawasan dapat menghubungkan kepentingan ekonomi dengan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
Melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi, pengalaman pengembangan PIK diharapkan tidak hanya menjadi praktik di lapangan, tetapi juga dapat menjadi bahan diskusi dan pembelajaran untuk mendorong lahirnya konsep kota yang semakin adaptif dan berkelanjutan.